Showing posts with label Motivation. Show all posts
Showing posts with label Motivation. Show all posts

Sunday, October 23, 2011

المقداد بن عمرو

بسم الله الرحمن الرحيم

Nama lengkapnya al-Miqdad bin Amru bin Tsa’labah bin Malik bin Rabi’ah bin Tsumamah bin Mathrud bin Amru bin Sa’ad bin Dahir al-Bahrany al-Kindy. Nama panggilannya Abu Amru. Dikenal dengan nama al-Miqdad bin al-Aswady atau al-Miqdad bin Amru. Lahir pada tahun 37 Hijriah. Istrinya Dhiba’ah bin az-Zubair bin Abdul Mutholib, putri paman Rasulullah.

Ibn al-Kalby bercerita,” Amru bin Tsa’labah (ayahnya) suatu hari terjadi pertempuran di kaumnya yang mengakibatkan dirinya terluka. Akhirnya beliau pergi ke Hadr Maut. Di sana beliau bergabung dengan kabilah Kindah. Setelah beberapa lama digelari al-Kindy. Setelah itu menikah dengan wanita di sana. Dari pernikahannya lahirlah anak pertama dinamai al-Miqdad. Pada waktu al-Miqdad tumbuh dewasa, terjadi pertikian antara dirinya dengan Abu Syamr bin Abdu Yaghus. Dipukulnya kaki Abu Syamr dengan pedang. Setelah itu melarikan diri ke Mekkah.” Satu pendapat mengatakan nama beliau al-Miqdad al-Aswady karena beliau diasuh dan dibesarkan di oleh al-Aswad bin Abdu Yaghus az-Zuhry. Pendapat lain karena beliau mempunya budak berkulit hitam. Pendapat lain karena beliau terluka parah kemudian lari ke Makkah. Di sana beliau bergabung dengan bani al-Aswad.
Beliau termasuk orang-orang pertama yang masuk Islam. Bahkan sebagimana diceritakan oleh Ibn Mas’ud beliau termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam; Rasulullah, Abu Bakar, Ammar dan ibunya Sumayyah, Shuhaib, Bilal dan al-Miqdad.

Dari Ikrimah binti al-Miqdad diceritakan bahwa ayahnya tinggi badannya, perutnya tidak terlalu besar, rambutnya agak tebal, wajahnya bagus, tidak gemuk dan kurus.

Pada waktu Rasulullah perintahkan umat Islam untuk berhijrah ke Habsyah (Ethopia), beliau ikut berhijrah bersama yang lain. Setelah itu beliau pulang ke Mekkah. Tapi beliau tidak ikut berhijrah ke Madinah. Beliau lah orang pertama yang berperang dengan menunggan kuda. beliau termasuk tiga tentera berkuda Islam setelah az-Zubair dan Murtsid. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah perintahkan aku untuk mencintai empat sahabat. Dan aku diberitahu bahwa Allah mencinta mereka; Ali, al-Miqdad, Abu Dzar dan Salman.”

Ikut dalam perang Badr dan semua peperangan setelahnya. Pada waktu perang Badr beliau menjadi tentera berkuda. Sebelum perang dimulai, beliau ikut bicara di depan majlis umat Islam setelah Abu Bakar dan Umar. Dalam ucapannya yang terkenal itu disebutkan, “Wahai Rasulullah, laksanakan sebab saya melihat… kami akan bersamamu (membantu). Demi Allah, kami tidak mungkin mengatakan seperti apa yang dikatakan bani Israel kepada Musa a.s. “Pergilah kamu dan tuhanmu kemudian berperanglah, kami di sini duduk-duduk saja.(QS.al-Maidah;24), tapi kami mengatakan ‘pergilah kamu dan Tuhanmu kemudian berperanglah niscaya kami ikut berperang. …

Diantara tindakan dan perbuatan yang ditakuti adalah berbuat dzalim kepada orang. Untuk itu beliau tidak segan-segan bertanya langsung kepada Rasulullah mengenai hal-hal dirasa kurang mengenak dihati. “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika berjumpa orang kafir kemudian tiba-tiba dia menyerangku. Dia pukul salah satu tanganku dengan pedang hingga putus. Setelah itu dia mencari perlindungan di pohon sambil berkata,”Saya berislam karena Allah SWT”, apakah saya bunuh orang itu wahai Rasulullah setelah dirinya mengucapkan kata itu?” tanya beliau. Rasulullah menjawab, “Jangan bunuh dia.” Beliau berkata, “Wahai Rasulullah dia telah memotong tangganku dan dia mengucapkan kata itu setelah tanganku dipotong. Apakah saya bunuh dia?” Rasulullah berkata, “Jangan bunuh dia, sekiranya kamu bunuh dia maka itu berarti dia kedudukannya sama denganmu sebelum kamu bunuh dia. Dan kedudukanmu sama dengan dia sebelum dia mengucapkan kata-kata itu.”(HR.Bukhori)


Tidak hanya itu, beliau juga sangat takut jika diberi kekuasaan tidak dapat melaksanakan dengan baik dan meremehkannya. Sebab kekuasaan itu adalah amanah. Beliau berkata, “Suatu ketika Rasulullah menyuruhku suatu pekerjaan. Pada waktu saya pulang dari tugas itu, Rasulullah bertanya, “Gimana dengan tugas yang dibebankan kepadamu?” saya jawab, “Wahai Rasulullah! Saya tidak mengira bahwa manusia, secara kesuluruhannya, adalah pelayanku. Demi Allah saya tidak akan meremehkan tugas itu selama saya masih hidup.”(HR.Hakim)

Dari Abdurahman bin Jubair bin Nufir dari ayahnya berkata, “Suatu hari kami duduk di samping al-Miqdad, tiba-tiba seseorang lewat. Orang itu berkata, “Alangkah senang dan bahagianya dua mata ini (al-Miqdad) dapat melihat Rasulullah. Demi Allah, niscaya kami ingin sekali berjumpa seperti yang dia jumpai.Kemudian saya mendengar kepada ucapannya. Saya pun merasa terkesima sebab apa yang diucapkan adalah kebaikan hingga saya ambil darinya.” Mendengar ucapan itu, al-Miqdad berkata, “Apa yang membuat kalian untuk berangan-angan sesuatu yang telah Allah wafatkan untuk diwujudkan kembali. Dia tidak tahu sekirany dia hidup ketika apakah dia berbuat yang sepatutnya. Demi Allah, banyak kaum yang hidup sezaman dengan Rasulullah tapi mereka dimasukkan ke neraka jahanam oleh Allah karena tidak menerima dan percaya ajarannya. Kenapa kalian tidak memuji Allah sebab telah dihindarkan dari siksa dan azab sepert mereka. Bahwkan Allah telah beri kemuduhan pada kalian untuk mengenal Allah dan ajarannya dengan mudah. “(Abu Na’im, al-hillyah 1/175-1716)


Dari kisah diatas dapat kita simpulkan bahwa kita perlu banyak bersyukur atas nikmat Islam yang diberikan Allah kepada kita tanpa kesusuhan yang kita hadapi. Dan juga tanpa banyak siksaan dari orang-orang yang tidak hendak menghalangi ajaran Islam. Mestinya keinginan dan cita-cita mati tetap berpegang pada ajaran Islam.

Dari Karimahh binti al-Miqdad bercerita bahwa al-Miqdad pernah berwasiat kepada Hasan dan Husain untuk diberi tiga ribu dirham dan untuk tiap istri-istri Rasulullah tujuh ribu dirham.

Selama berjuang menyebarkan ajaran Islam bersama Rasulullah, beliau telah meriwayatkan kurang lebih 48 hadits. Pada tahun 33 Hijriah beliau wafat di dekat kota Madinah dan dikuburkan di sana.

والله أعلم
والسلام عليكم

Wednesday, October 20, 2010

Jadilah seperti air (part 2)

بسم الله الرحمن الرحيم


Tanpa ku sedari, masa berlalu begitu pantas
Adik-adik ku sudah mula meningkat dewasa
Semakin matang dan berubah ke arah positif
Suatu dahulu kala masih ku ingat
Susahnya nak mengajak adik-adik ke program


Komitmen yang berbelah bahagi
Seribu satu alasan yang selalu dikemukakan
Kini adik-adikku sudah mula ber'gerak'
Tidak sanggup lagi menjadi air yang bertakung
Yang akhirnya akan menjadi busuk dan kotor


Adik-adikku mula bergerak laju, berkorban masa dan tenaga
Mentajmi', membina hubungan fardi
Bermuayasyah pada setiap kesempatan yang ada
Bersama dengan mad'u masing-masing
Alhamdulillah thumma alhamdulillah ya robb


Rehlah KITA juga menjadi saksi
Aku sekadar memerhatikan dari jauh
Adik-adikku menguruskan segala-galanya
Menguruskan aktiviti-aktiviti di dalam air terjun
Memberi tazkirah dan mencari 'ibroh di sebalik rehlah
Alhamdulillah thumma alhamdulillah


Jika kita lihat air terjun di Bekok tempoh hari, kita akan perhatikan bahawa ramainya orang yang tertarik untuk mandi di kawasan air terjun deras dengan buih-buih yang banyak akibat pergerakan air yang melalui kawasan berbeza ketinggian. Tapi dengan mudah jika kita perhatikan, buih-buih itu hilang mengikut arus air dalam masa yang singkat.


Mengapa kita tertarik pada kawasan berbuih tu ye walaupun buih tu hanya wujud sebentar sahaja?


Ibarat tarikan dunia ini, semuanya umpama buih-buih semata-mata. Kenikmatan yang sangatlah sedikit dan sebentar sahaja. Mata'un qoliilun. Itulah gambaran yang Allah berikan dalam al Quran tentang nikmat di dunia ini. Tapi itulah yang sentiasa menjadi tumpuan manusia, sudah memang menjadi fitrah dan lumrah dunia, sodaqollahul 'adzhim.



Ia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu membanjiri tanah-tanah lembah (dengan airnya) menurut kadarnya yang ditetapkan Tuhan untuk faedah makhlukNya, kemudian banjir itu membawa buih yang terapung-apung. Dan dari benda-benda yang dibakar di dalam api untuk dijadikan barang perhiasan atau perkakas yang diperlukan, juga timbul buih seperti itu. Demikianlah Allah memberi misal perbandingan tentang perkara yang benar dan yang salah. Adapun buih itu maka akan hilang lenyaplah ia hanyut terbuang, manakala benda-benda yang berfaedah kepada manusia maka ia tetap tinggal di bumi. Demikianlah Allah menerangkan misal-misal perbandingan.


Maka ingatlah wahai adik-adikku, perjalanan KITA masih jauh. Banyak cabaran yang bakal menanti. Jangan tertipu dek buih-buih yang banyak macam di air terjun itu. Semua nikmat itu akan hilang, maka seharusnya kita memfokuskan pada nikmat yang kekal abadi.

Harus diingat juga, dakwah ini milik Allah. Allah yang akan memelihara saff-saff pejuangnya. Sebagaimana proses menciptakan perkakas dan barang perhiasan melalui pembakaran besi, buih-buih yang banyak sekali dihasilkan akan hilang juga kerana buih-buih itu akan mencacatkan kualiti penciptaan bahan tersebut. Semoga kita tidak menjadi sekadar buih yang tidak bermanfaat dalam saff dakwah Robbani ini, malah berusaha menjadi proaktif dan bergerak aktif untuk menyebarkan fikrah, bermanfaat kepada seluruh umat insyaAllah. Ikhlaskan hati, teruskan amal, kuatkan mujahadah, tingkatkan tajarrud, banyakkan tadhiyah, peliharalah ukhuwwah dan yakinlah dengan rakan seperjuangan KITA, insyaAllah. Jumpa di mukhayyam KITA nanti insyaAllah.





Arruhul jadid fi jasadil ummah
Hai mujahid luluh lantakkan jiwa pendosa
Kami petualang mencari kebenaran
Mencari makna serta hakikat manusia
Kami berjuang menegakkan kehormatan
Hidup mulia atau mati sebagai syuhada

Kami berbekal alquran hakiki
Meneruskan cita dan risalah para nabi
Kami sandang julukan generasi ghuraba
Biar saatnya datang kami pimpin dunia
Kami semangat baru siap maju hancur semua musuh
Kami tentara Alloh siap korbankan harta bahkan jiwa
Kami serahkan semua hidup pada Alloh
Kami tekadkan tuk ikuti rasulullah
Usung panji ilahi iman kuat membaja
Hadapi tirani bebaskan umat dunia
Tajuk Nasyid : Ruhul Jadid
Artis : Ar-Ruhul Jadid


والله اعلم
والسلام عليكم

Friday, May 14, 2010

Lessons behind the chess game

بسم الله الرحمن الرحيم


Had two sessions of chess game today after quite a long time. Yup, my steps were a bit rusty and took quite a while to recall some good old opening moves and strategies. I won both games. This game is not suitable for those who don't like to THINK. And you have to THINK 10 steps ahead in order to try to win the game.




My opponent praised me and asked,"Terer ar abang... camne abang fikir ye?" (I'm not "bullying" anyone by taking on a younger opponent, it just happened that she wants to play against me after I had my lunch at the food court in UTHM.)


I replied shortly and precisely," Kena sentiasa fokus apa MATLAMAT UTAMA dalam game chess ni."

What causes my opponent to lose twice is because she falls easily for my trap. I set up a free knight for her to capture while trying to distract her from my "secret" move sets on assaulting her defense line and to check mate her in an instant.

In chess, one can easily become greedy. Why? Those chess players out there know that the most valuable piece in this game is the Queen, because of its ability that can do wonders in this game. Next come the Rook, Bishop, Knight, Pawn, last but not least, the King itself. The King can be regarded as the most worthless piece in this game, it is just too weak and causing liability on us throughout the game. One can either become so overprotective of all one's pieces or become so greedy to capture other opponent's pieces because those who have more pieces in the game and have positioned them well will have TEMPORARY advantage. I repeat, TEMPORARY. Despite all, the main objective of this game is to protect that worthless piece of your King at all cost and to check mate/kill your opponent's King with all might.

My opponent lost not once, but twice because she is focusing too much on capturing my other pieces, to gain that TEMPORARY advantage. I have to admit that the so-called TEMPORARY advantage is definitely important as the game progresses, but it does not give you 100% guarantee that you will win ultimately in the end.

So are the worldly life that we are currently living in. We focus so much on things that only give us TEMPORARY pleasure and comfort. We always forget to take care of something seems so worthless in this worldly life, the IMAN, the DEEN but yet it is the most important thing we ever have. That signifies our mission in this life. The ultimate, the utmost important mission above all in this world. Everything else in our life are just TEMPORARY, you are not going to carry all together with you into your coffin.

It doesn't matter how much knights, bishops, pawns, rooks and queen that you have captured. In the end it's all about who gets to check mate first. It doesn't matter how many cash, assets like houses, cars so on and so forth that you own now. In the end it's all about who has the best deeds and the most pious. I have to remind again that capturing opponent's pieces is crucial in order to survive and so does owning those things mentioned above in our lives. However, stay intact with your main purpose and goal in this game or in this life. Don't get distracted. It's all about who has the biggest laugh in the end, don't you agree?

Focus towards your main objective is the key! As important as it may seem in order to win the chess game, the same goes in our life as well. The objective/task that seems TRIVIAL as the game runs but that is the only thing that matters in the end. The objective/task that seems TRIVIAL as our life goes on but that is the only thing that matters in the end when we die.




Just like in the game, capturing a free knight is so irresistible and tempting. The same goes in our life. "Capturing" all sort of blessings/nikmat in this life is definitely irresistible as well for all typical living human. Always remember the main purpose of our lives in this world. To finish up all opponent's pieces/to enjoy our life to the maximum with all the luxuries and all the "bling-bling" you can earn is definitely not the purpose of the chess game/purpose of our lives. Focus Imran!!! Focus!!





والله علم
والسلام عليكم

Friday, November 20, 2009

Learn To Fly



بسم الله الرحمن الرحيم



I was once a small tiny pigeon
Slowly growing, honing skills and experience
To fly as spectacular as an eagle


Strolling down my memory lane
Recollecting the bitter sour from the past
So that it will become sweet in the future
the Petronas pre-departure program
Soaring the Eagle
and the re-orientation program
The Performing Eagle
Heeding the call and the challenge


I've soared high
After flying high and low
And falling many times
Now it's time not just to soar
As high as the swallows 
But it's time to perform
As magnificent as the eagle
The Performing Eagle


When you feel the dream is over
Feel the world is on your shoulders
And you lost the strength to carry on
Even though the walls may crumble
And you find you always stumble through
Remember never to surrender to the dark
Because if you turn another page
You will see that’s not the way
The story has to end




And if you need to find a way back
Feel you’re on the wrong track
Give it time, you’ll learn to fly
Tomorrow is a new day
And you will find your own way
You’ll be stronger with each day that you cry
Then you’ll learn to fly




In your head, so many questions
The truth is your possession
The answer lies within your heart (within your heart)
You will see the doors are open
If you only dare to hope
And you will find a way to fight
The fears that kept you down
Because if you turn another page
You will see that’s not the way
The story has to end


Looking at your situation
There’s so much that you can do
Now’s the time to make your stand
This is just an observation
In the end it’s up to you
The future’s in your hands


Give it time
Then you’ll learn to fly





والله علم 
والسلام عليكم